phone (0324) 322231, 325786 email info@unira.ac.id
logo

IPM Pamekasan Naik, FGD FKIP Soroti Tantangan Sumber Daya Manusia

blueprint decor
IPM Pamekasan Naik, FGD FKIP Soroti Tantangan Sumber Daya Manusia

PAMEKASAN, fkipmedia – Kabupaten Pamekasan kini boleh berbangga karena angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah ini resmi masuk dalam kategori tinggi. Namun, di balik kabar baik tersebut, masih ada tantangan besar yang harus diselesaikan di lapangan. Mulai dari anak-anak yang siap kerja tetapi belum mendapatkan wadah industri, hingga urusan anak putus sekolah yang masih membayangi.

PAMEKASAN, fkipmedia – Kabupaten Pamekasan kini boleh berbangga karena angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah ini resmi masuk dalam kategori tinggi. Namun, di balik kabar baik tersebut, masih ada tantangan besar yang harus diselesaikan di lapangan. Mulai dari anak-anak yang siap kerja tetapi belum mendapatkan wadah industri, hingga urusan anak putus sekolah yang masih membayangi.

Agar angka makro ini tidak sekadar jadi pajangan di atas kertas, butuh kerja sama erat dari semua lini. Langkah konkret inilah yang dibedah dalam Forum Group Discussion (FGD) tentang akselerasi IPM Pamekasan yang digelar oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Pamekasan. Forum strategis ini dipandu langsung oleh akademisi FKIP, Dr. Harsono, M.Pd., selaku moderator.

Dekan FKIP, Dr. Moh. Zayyadi, M.Pd., menegaskan bahwa kampus harus ambil bagian dalam menyelesaikan masalah ini.

"Urusan meningkatkan kualitas manusia Pamekasan itu kerja bareng-bareng, tidak bisa sendiri-sendiri. FKIP siap menjadi mitra kolaborasi yang menerjunkan riset dan mahasiswa ke titik-titik yang paling membutuhkan bantuan," ujar Zayyadi saat membuka acara.

Antara Harapan Sekolah dan Kenyataan

Ketua BPS Pamekasan, Parsad Barkah Pamungkas, SST, M.Ec.Dev, membuka diskusi dengan menyodorkan data makro terbaru. Meski tren IPM Pamekasan naik kelas ke kategori tinggi, potret detail di sektor pendidikan menunjukkan adanya jarak yang harus dipangkas.

Hal ini dipertegas oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pamekasan, Akhmad Basri Yulianto, SH., M.Si. Secara data, Harapan Lama Sekolah (HLS) di Pamekasan sebenarnya sudah sangat bagus, yaitu berada di angka 13,83 tahun. Artinya, anak-anak di Pamekasan punya kemauan dan harapan untuk mencicipi bangku kuliah semester awal.

Namun sayangnya, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) riil warga usia 25 tahun ke atas saat ini baru menyentuh angka 7,29 tahun—alias rata-rata baru lulus kelas 1 atau kelas 2 SMP.

Menyikapi hal ini, Dinas Pendidikan langsung mengunci fokus perbaikan pada Standar Pelayanan Minimal (SPM). "Fokus kami saat ini adalah menggenjot kompetensi guru, membenahi fasilitas sekolah (sarpras), dan menyesuaikan kurikulum agar anak-anak tidak putus sekolah," kata Akhmad Basri.

Pendekatan Karakter Lewat Kurikulum Cinta

Tantangan unik lainnya datang dari dunia pendidikan keagamaan. Kepala Kantor Kementerian Agama Pamekasan, yang dalam hal ini diwakili oleh Ketua Pokjawas, Farida Hidayati, M.Pd., memaparkan ada fenomena sosial yang menarik di Madura. Di beberapa wilayah tertentu, daerah yang ekonominya maju justru kesadaran untuk sekolah tingginya rendah karena anak-anak lebih memilih langsung bekerja atau berdagang.

Kemenag pun menjawab tantangan budaya ini lewat pendekatan yang lebih menyentuh hati. "Kami menerapkan apa yang disebut 'Kurikulum Berbasis Cinta' di madrasah dan pesantren. Fokusnya adalah pembentukan karakter dan akhlak. Kami percaya, membangun manusia bukan cuma soal bikin pintar otaknya, tapi juga disentuh hatinya," jelas Farida.

Masalah Baru: Siap Kerja, Tapi Lapangan Kerja Terbatas

Saat anak-anak sudah dibekali karakter yang baik, tantangan berikutnya bergeser ke tingkat lulusan sekolah menengah atas. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi yang diwakili oleh Ibu Nendah Nurjannah, M.Pd. (Pengawas Cabdin Wilayah Pamekasan), menjelaskan bahwa saat ini Jawa Timur sedang panen lulusan SMK berprestasi, di mana angka serapan kerja tinggi dan pengangguran mulai turun.

Namun, Pamekasan punya kendala tersendiri di sektor hilir. "Anak-anak SMK kita di Pamekasan sebenarnya sangat terampil dan siap kerja. Tapi anomalinya, jumlah industri lokal di sini jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah lulusan kita. Akibatnya, banyak anak siap kerja yang belum bisa tertampung," tutur Nendah.

Melalui diskusi yang dipandu secara interaktif oleh Dr. Harsono, M.Pd., para narasumber dan akademisi sepakat bahwa sekolah di tingkat hulu (Disdikbud dan Kemenag) harus mulai mengubah pola pikir siswa. Sejad dini, siswa tidak hanya dididik untuk menjadi pencari kerja, tetapi juga dicetak menjadi pencipta lapangan kerja lewat bekal wirausaha.

Dengan komitmen dari FKIP yang siap menerjunkan mahasiswanya lewat KKN tematik ke desa-desa yang angka sekolahnya masih rendah, FGD ini menaruh harapan besar. Data dari BPS dan kebijakan dari para kepala dinas diharapkan bisa langsung klop untuk membangun masa depan Pamekasan yang lebih nyata.

Dr. MOH. ZAYYADI, M.Pd.
Certified

Dr. MOH. ZAYYADI, M.Pd.